PANGKEP, KORANMAKASSAR.COM — Puncak acara kegiatan prosesi Tammu Taung Pulau Pajenekang, Desa Mattiro Deceng, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, Jum’at 27 Agustus 2021 berlangsung sukses, semarak, tertib, aman dan lancar yang tentunya dengan protokol kesehatan ketat.
Tammu Taung merupakan tradisi kegiatan tahunan yang mempesona, menarik dan memberi kesan kepada tiap pengunjung yang datang di pulau yang terletak sekitar 10 mil laut lebih dari kota Makassar dan 20 mil dari kota Kabupaten Pangkajene dan kepulauan.
Tammu Taung adalah prosesi ritual tahunan yang sangat populer dan disakralkan sebagai kegiatan unggulan dan diandalkan merupakan kebanggaan tersendiri warga yang tinggal di pulau ini.

Kegiatan Tammu Taung berlangsung 3 pekan sebagaimana diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya. Menurutnya jum’at pertama tiap bulan Muharram masyarakat pulau Pajenekang melakukan tradisi yang disebut Akkaluku Lolo, kemudian Jum’at kedua melakukan Pecah Surah (Ajjepe), dan di Jum’at ke tiga, satu hari sebelum itu tepatnya hari kamis pagi jam 10 00 Wita lembaga adat pulau Pajenekang menaikkan bendera merah putih secara adat di depan Gallarrang.

Kemudian setelah shalat Isya lembaga adat bersama para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama melakukan zikir bersama serta lantunan lagu-lagu thasyauf diiringi rebana. Kemudian esok harinya yakni Jum’at masuk acara puncak, diawali pagi jam 10 00 wita lembaga adat kumpul bersama di Balla Lompoa dengan melakukan satu rangkaian tradisi aru pendek di depan gallarrang lalu gallarrang bersama rombongan mengelilingi pulau Pajenekang sebelum masuk Ziarah kubur di makam gallarrang lebih dahulu disambut dengan A’ngaru oleh jubir adat.
Dan setelah Jum’at lembaga adat bersama tamu-tamu undangan, baik pejabat daerah maupun pejabat provinsi mengikuti acara puncak yang intinya membacakan sejarah pulau Pajenekang oleh salah satu anggota Dewan adat.
baca juga : Ini Tradisi Unik Warga Bonto Mangngape Bulukumba di Malam Ke 16 Ramadhan
Menurut beberapa tokoh masyarakat sekitar kalau peringatan Tammu Taung pertama kalinya digagas oleh dua orang tokoh yakni salah seorang pejuang yang gigih melawan Belanda pada masa itu, Bantang Harun Rasyid pada tahun 1324 masehi, bersama Syech Na’imang salah seorang ulama kharismatik yang terdampar di Pulau Pa’jenekang.
“Kami berharap semoga acara tahunan Tammu Taung ini, semakin membawa berkah untuk semua warga Pulau Di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan terkhusus bagi warga yang sengaja meluangkan waktunya untuk menghadiri acara ini, kami juga mengharapkan pemerintah kabupaten Pangkep agar lebih meningkatkan sarana dan prasarana serta infrastruktur di pulau Pa’jenekang khususnya penyediaan air tawar dan penerangan listrik”, harap salah seorang warga. (rahman sibali)

