BONE,.KORANMAKASSAR.COM – Inovasi pertanian berkelanjutan terus dikembangkan untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya air. Tim MENENNUNGENG PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin (Unhas) mengimplementasikan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, sebagai bagian dari pengembangan konsep smart farming di sektor pertanian padi.
Teknologi AWD merupakan metode pengelolaan irigasi dengan mengatur siklus penggenangan dan pengeringan lahan sawah secara bergantian.
Berbeda dengan sistem konvensional yang selalu menggenangi lahan, metode ini memungkinkan tanah mendapatkan oksigen secara berkala sehingga mampu menekan emisi gas metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.
Baca Juga ; Pemdes Kajaolaliddong Dukung Program “Mannennungeng” Unhas, Dorong Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
Selain menurunkan emisi, sistem AWD juga terbukti dapat menghemat penggunaan air irigasi sekitar 15–30 persen.
Efisiensi ini berdampak pada pengurangan biaya produksi, menekan limpasan pupuk dan pestisida, serta mendorong pengelolaan jerami yang lebih ramah lingkungan tanpa pembakaran lahan.
Secara global, AWD telah diterapkan di berbagai negara Asia seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina, serta diakui dalam skema internasional pengurangan emisi seperti Japan’s Joint Crediting Mechanism (JCM), Verra (VCS), Gold Standard, hingga Thailand Voluntary Emission Reduction Program (T-VER).
Pengakuan ini menunjukkan bahwa AWD tidak hanya berdampak pada efisiensi pertanian, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi melalui skema kredit karbon yang terus berkembang.
Baca Juga : Mahasiswa Kehutanan Unhas Dampingi Produksi Gula Aren, Dorong Penguatan Produk Unggulan KTH Puncak Mesula
Dalam implementasinya, Tim MANENNUNGENG mengembangkan AWD berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan kondisi lahan secara real-time melalui sensor. Sistem ini membantu petani menentukan waktu pengairan dan pengeringan secara lebih presisi, sehingga pengelolaan irigasi menjadi lebih efisien dan berbasis data.
Selain penerapan teknologi, tim juga melakukan pendampingan kepada petani terkait pemahaman konsep AWD, penggunaan sistem IoT, serta pentingnya efisiensi air dalam menghadapi perubahan iklim.
Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani dalam mengadopsi pertanian modern yang lebih produktif dan ramah lingkungan.
Program ini menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif di tingkat desa. Ke depan, penerapan AWD berbasis IoT diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian cerdas yang mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, serta transisi menuju pertanian rendah emisi di Indonesia. (*)


Komentar