Dakwah di Warung Kopi, Mimbar Tidak Boleh Menjadi Penjara Dakwah

Sebuah Pendekatan Sosiologi Islam

Oleh: Andi Bachtiar

KORANMAKASSAR.COM — Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya cukup mengganggu cara berpikir kita tentang dakwah: mengapa dakwah harus selalu berada di atas mimbar?

Mengapa seorang ustaz harus selalu berdiri di depan jamaah di dalam masjid atau mushallah untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan?

Apakah ketika seorang dai duduk di sebuah warung kopi, berdiskusi dengan anak-anak muda sambil menikmati secangkir kopi, lalu berbicara tentang agama, moralitas, kehidupan dan Tuhan, maka dakwahnya menjadi kurang Islami?

Pertanyaan ini penting karena kita sedang menghadapi perubahan besar dalam struktur sosial masyarakat.

Generasi milenial dan Gen-Z tidak hidup dalam ruang sosial yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam masyarakat yang lebih terbuka, cair, digital, cepat berubah, dan tidak terlalu menyukai sekat-sekat komunikasi yang kaku. Mereka berinteraksi di kampus, tempat kerja, komunitas, ruang kreatif, warung kopi, cafe, pusat perbelanjaan, media sosial, podcast, dan berbagai ruang digital.

Jika masyarakat berubah, mengapa cara berdakwah tidak boleh berubah?

Di sinilah dakwah perlu dibaca melalui pendekatan sosiologi agama.

DAKWAH DAN PERUBAHAN RUANG SOSIAL

Dalam perspektif sosiologis, agama tidak hanya dipahami sebagai seperangkat doktrin dan ritual, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang hidup dalam masyarakat. Agama hadir dalam hubungan antarmanusia, institusi sosial, kebudayaan, nilai, norma, serta berbagai ruang interaksi masyarakat.

Karena itu, dakwah sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menyampaikan ajaran agama, tetapi juga tentang bagaimana agama berinteraksi dengan perubahan masyarakat.

Ketika ruang sosial masyarakat berubah, maka ruang dakwah pun semestinya mengalami perluasan.

Dulu, masjid dan mushallah mungkin menjadi pusat utama interaksi keagamaan. Kini, ruang sosial masyarakat jauh lebih beragam. Warung kopi menjadi tempat diskusi. Cafe menjadi tempat pertemuan. Kampus menjadi ruang pertukaran gagasan. Media sosial menjadi ruang pembentukan opini. Podcast menjadi ruang dialog. Bahkan sebuah grup WhatsApp dapat menjadi ruang pertukaran nilai dan pandangan keagamaan.

Dalam konteks ini, mempertahankan dakwah hanya pada ruang formal dapat membuat dakwah kehilangan sebagian ruang sosial masyarakat.

Dakwah tidak boleh hanya hadir di tempat orang-orang yang sudah religius berkumpul. Dakwah juga harus hadir di tempat orang-orang yang sedang mencari makna kehidupan.

WARUNG KOPI SEBAGAI RUANG SOSIAL BARU

Warung kopi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai tempat orang membeli kopi.

Dalam masyarakat perkotaan, warung kopi dan cafe telah berkembang menjadi ruang sosial. Orang datang bukan semata-mata untuk minum, tetapi untuk bertemu, berdiskusi, bekerja, membangun jaringan, bertukar gagasan, bahkan membicarakan persoalan sosial dan kehidupan pribadi.

Dari sudut pandang sosiologi agama, kondisi tersebut menarik.Sebab ketika agama ingin hadir dalam kehidupan masyarakat, agama tidak cukup hanya hadir dalam institusi keagamaan. Agama juga perlu hadir dalam ruang sosial tempat masyarakat menjalani kehidupannya.

Maka, ketika seorang dai menyelenggarakan diskusi keagamaan di warung kopi, sesungguhnya ia sedang melakukan sebuah strategi sosial: membawa pesan agama ke dalam ruang kehidupan masyarakat.

Di sana dakwah tidak lagi tampil sebagai komunikasi yang sepenuhnya formal.

Tidak ada jarak tinggi antara penceramah dan jamaah.

Tidak ada mimbar yang membuat satu orang berbicara sementara yang lain hanya mendengar.

Yang muncul adalah ruang dialog.

Dai dapat bertanya.

Anak muda dapat menjawab.

Anak muda dapat bertanya balik.

Perbedaan pandangan dapat dibicarakan.

Keresahan dapat disampaikan.

Dan agama dapat dibicarakan bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Generasi Milenial dan Gen-Z Tidak Kekurangan Informasi, tetapi Membutuhkan Ruang Dialog

Persoalan generasi muda hari ini bukan semata-mata kekurangan informasi agama.

Justru informasi keagamaan sangat melimpah.Dalam satu genggaman smartphone, seorang anak muda dapat menemukan ribuan ceramah, kajian, potongan ayat, hadis, tausiah, podcast keislaman, bahkan perdebatan antarpendakwah.

Tetapi banyaknya informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman keberagamaan.

Di sinilah dakwah menghadapi tantangan baru. Generasi muda membutuhkan ruang untuk bertanya dan berdialog, bukan hanya ruang untuk menerima informasi.

Mereka mungkin bertanya:

Apa makna beragama ketika menghadapi tekanan pekerjaan?

Bagaimana Islam memandang kesehatan mental?

Bagaimana menghadapi kegagalan?

Bagaimana menjaga moral di tengah budaya digital?

Bagaimana memilih pasangan?

Bagaimana menjadi Muslim yang tetap relevan dalam masyarakat modern?

Bagaimana menghadapi perbedaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu muncul dalam ceramah formal.

Namun, pertanyaan itu dapat muncul ketika seseorang duduk santai bersama teman-temannya di warung kopi.

Maka, meja kopi dapat berubah menjadi meja dialog keagamaan.

Dan di situlah dakwah menemukan ruang sosial barunya.

Komentar