Dakwah dan Fashion: Ketika Estetika Penampilan Menjadi Identitas Baru Dakwah Kontemporer

Fashion dan Dakwah sebagai Dua Kekuatan yang Saling Melengkapi dalam Menjawab Selera Jamaah Modern  (Oleh: Andi Bachtiar)

KORANMAKASSAR.COM  — Dakwah merupakan aktivitas keagamaan yang senantiasa mengalami perkembangan seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan peradaban manusia. Dalam konteks masyarakat kontemporer, dakwah tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui mimbar masjid, majelis taklim, maupun forum pengajian dengan pendekatan konvensional.

Dakwah telah mengalami transformasi yang cukup signifikan, bukan hanya pada aspek metode, media, dan gaya komunikasi, tetapi juga pada aspek penampilan seorang dai sebagai komunikator keagamaan.

Salah satu fenomena menarik yang berkembang dalam kehidupan keagamaan masyarakat dewasa ini adalah semakin kuatnya perpaduan antara dakwah dan fashion. Keduanya tidak lagi selalu dipandang sebagai dua entitas yang berdiri sendiri, melainkan telah berkembang menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dalam praktik dakwah kontemporer.

Fashion tidak sekadar menjadi pelengkap penampilan seorang dai, tetapi juga menjadi bagian dari strategi komunikasi, pembentukan identitas, serta pendekatan sosial untuk menarik perhatian dan membangun kedekatan dengan jamaah.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam memandang sosok seorang pendakwah. Jika pada masa sebelumnya masyarakat cenderung mengidentikkan seorang dai dengan penampilan yang sederhana, tradisional, dan relatif seragam, maka dalam perkembangan dakwah kontemporer muncul kecenderungan baru yang menempatkan estetika penampilan sebagai salah satu unsur penting dalam membangun daya tarik seorang pendakwah.

Seorang dai kini tidak cukup hanya dituntut menguasai ilmu agama, memiliki kemampuan retorika, dan memahami dalil-dalil keislaman.

Ia juga dituntut memiliki kecerdasan sosial dalam membaca perkembangan budaya, memahami karakteristik jamaah, serta menyesuaikan penampilannya dengan dinamika masyarakat yang terus berubah.

Dalam perspektif komunikasi, fenomena ini sesungguhnya dapat dipahami secara rasional. Keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh karakteristik komunikator, cara penyampaian, dan persepsi audiens terhadap sosok yang menyampaikan pesan tersebut.

Penampilan merupakan bagian dari komunikasi nonverbal yang dapat membentuk kesan awal, meningkatkan daya tarik, dan memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap seorang komunikator.

Karena itu, dalam praktik dakwah kontemporer, fashion dan dakwah dapat dipandang sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Dakwah memberikan substansi spiritual dan nilai-nilai keagamaan, sedangkan fashion menghadirkan dimensi estetika yang dapat memperkuat daya tarik komunikasi seorang dai di hadapan jamaahnya.

baca juga : Dakwah di Warung Kopi, Mimbar Tidak Boleh Menjadi Penjara Dakwah

Perpaduan tersebut semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat perkotaan, termasuk di Kota Makassar, ketika perkembangan budaya fashion telah merambah berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.

Busana muslim tidak lagi hanya dipahami sebagai pakaian untuk memenuhi ketentuan syariat, tetapi juga berkembang menjadi simbol identitas, ekspresi kepribadian, dan representasi selera estetika seseorang.

Perkembangan ini turut memengaruhi penampilan para pendakwah. Jubah yang dahulu identik dengan model sederhana kini hadir dalam berbagai desain modern, kombinasi warna yang elegan, serta potongan busana yang mengikuti perkembangan mode.

Demikian pula penggunaan kopiah, sorban, sepatu, dan berbagai aksesori pendukung lainnya yang semakin memperlihatkan kreativitas seorang dai dalam membangun identitas visualnya.

Menariknya, perkembangan tersebut bukan semata-mata lahir dari keinginan para dai untuk tampil modis, melainkan juga dipengaruhi oleh perubahan selera dan ekspektasi jamaah terhadap sosok pendakwah yang mereka hadirkan.

Dalam praktik keseharian, misalnya, tidak jarang kita menjumpai ibu-ibu pengurus majelis taklim yang memiliki pertimbangan tersendiri ketika hendak mengundang seorang dai untuk memberikan ceramah keagamaan.

Selain mempertimbangkan kemampuan menyampaikan materi, gaya bahasa yang komunikatif, serta penguasaan ilmu agama, sebagian pengurus majelis taklim juga memberikan perhatian terhadap penampilan seorang dai.

baca juga : Penceramah dan Kemandirian Ekonomi: Agar Dakwah Tidak Tergadai Oleh Kebutuhan

Bahkan, dalam fenomena sosial tertentu, seorang dai yang memiliki gaya berpakaian modern, elegan, dan fashionable dapat menjadi pilihan yang lebih menarik bagi sebagian jamaah. Penampilan yang rapi, jubah yang modis, sepatu yang serasi, serta kopiah yang memiliki desain menarik dapat menciptakan kesan tersendiri di mata ibu-ibu majelis taklim.

Kenyataan sosial semacam ini memperlihatkan bahwa estetika penampilan mulai menjadi salah satu pertimbangan dalam proses pemilihan komunikator dakwah.

Tentu saja, hal tersebut tidak dapat digeneralisasikan kepada seluruh majelis taklim. Namun, kecenderungan ini cukup menarik untuk dipahami sebagai bagian dari perubahan selera keagamaan masyarakat modern.

Dengan demikian, dalam realitas dakwah kontemporer, seorang dai bukan hanya dituntut mampu menyampaikan ceramah yang menarik untuk didengarkan, tetapi juga menghadirkan penampilan yang menarik untuk dipandang.

Dalam konteks ini, fashion telah berkembang menjadi salah satu instrumen komunikasi dakwah. Penampilan seorang dai dapat membangun kesan profesional, meningkatkan daya tarik personal, dan menciptakan suasana psikologis yang lebih menyenangkan bagi jamaah.

Ketika seorang dai tampil dengan busana yang indah, bersih, rapi, dan serasi, hal tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghargai jamaah yang hadir untuk mendengarkan pesan-pesan keagamaan.

Pandangan tersebut juga memiliki landasan normatif dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Innallāha jamīlun yuḥibbul-jamāl.

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut memberikan pemahaman bahwa Islam tidak menolak keindahan, termasuk keindahan dalam berpakaian. Namun, keindahan yang dimaksud tentu harus ditempatkan dalam kerangka etika Islam, sehingga tidak berubah menjadi kesombongan, pemborosan, ataupun keinginan mempertontonkan kemewahan secara berlebihan.

Dalam konteks dakwah, keindahan penampilan justru dapat menjadi nilai tambah apabila dipadukan dengan kedalaman ilmu, kesantunan perilaku, dan keteladanan akhlak seorang pendakwah.

Fenomena Ustadz Kahlil Gibran: Representasi Dai Gen-Z dalam Perpaduan Dakwah dan Fashion di Kota Makassar

Salah satu contoh empiris yang menarik untuk dicermati dalam perkembangan dakwah kontemporer di Kota Makassar adalah fenomena Ustadz Kahlil Gibran, seorang dai dari kalangan generasi Z yang dikenal memiliki gaya penampilan modern, modis, dan menarik.

Komentar