MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Masyarakat jasa konstruksi, akademisi dan sejumlah pemangku kepentingan mendorong optimalisasi pemanfaatan Aspal Buton (Asbuton) sebagai bahan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan nasional maupun daerah.
Komitmen tersebut dituangkan dalam PETISI Masyarakat Jasa Konstruksi untuk Mendorong Pemanfaatan Aspal Buton, yang diinisiasi Persatuan Alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (PATSI UMI).
PETISI lahir dalam Seminar Nasional bertajuk “Optimasi Pemanfaatan Aspal Alam Pulau Buton untuk Ketahanan Infrastruktur Jalan Nasional Berkelanjutan” yang digelar di Hotel Claro Makassar, Jumat (2/10/2026), sebagai rangkaian pelantikan DPP PATSI UMI periode 2026–2030.
Seminar menghadirkan Dr. Ir. Ali Amal, M.Si., IPU, Pembina Jasa Konstruksi Madya pada Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, serta Dr. Ir. Andi Muhammad Ifrad, ST., MT., peneliti Teknik Sipil Universitas Indonesia sekaligus Head of Scope Avenew Grup.
Diskusi menyoroti besarnya potensi Asbuton sebagai sumber daya alam dalam negeri yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian infrastruktur jalan.
baca juga : Resmi Dilantik, PATSI UMI Siap Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Sulsel
Ketua Umum DPP PATSI UMI, Dr. Ir. H. Mahmud, ST., MM., MSP., MT., mengatakan PETISI tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat jasa konstruksi terhadap masa depan pembangunan infrastruktur Indonesia.
“Pemanfaatan Aspal Buton bukan hanya berbicara mengenai bahan baku jalan, tetapi juga bagaimana kita mengoptimalkan kekayaan sumber daya nasional, memperkuat industri dalam negeri dan membangun kemandirian infrastruktur,” ujarnya.
Enam Komitmen PETISI
Dalam PETISI tersebut, masyarakat jasa konstruksi mendorong enam langkah strategis, yakni:
1. Memperkuat kebijakan pemerintah terkait pemanfaatan Asbuton untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan nasional maupun daerah.
2. Memperkuat standar dan spesifikasi teknis serta pengembangan teknologi agar pemanfaatan Asbuton memenuhi standar kualitas konstruksi.
3. Meningkatkan kapasitas industri pengolahan Asbuton, dari produksi hingga menghasilkan produk siap digunakan.
4. Mendorong penggunaan produk dalam negeri, khususnya bahan baku dan produk Asbuton untuk memperkuat industri nasional.
5. Memperkuat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, asosiasi jasa konstruksi dan masyarakat dalam penelitian, teknologi, standardisasi serta implementasi Asbuton.
6. Mendorong infrastruktur jalan yang mandiri, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan sumber daya nasional.
Baca Juga : PATSI UMI Temui Kajati Sulsel, Bahas Pelantikan dan Hukum Konstruksi
Mahmud menegaskan, PATSI UMI ingin agar PETISI tidak berhenti sebagai hasil seminar, tetapi dilanjutkan melalui kajian akademis, pengembangan teknologi, dialog serta komunikasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
“Ini adalah langkah awal untuk membangun gerakan bersama. Kami berharap PETISI ini menjadi masukan konstruktif agar potensi Asbuton dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk kepentingan pembangunan nasional,” katanya.
Menurutnya, optimalisasi Asbuton juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat rantai industri nasional dan membuka ruang inovasi teknologi di sektor konstruksi.
Seminar dan PETISI tersebut menjadi bagian dari komitmen baru PATSI UMI periode 2026–2030 untuk memperkuat kontribusi alumni Teknik Sipil UMI terhadap pembangunan infrastruktur, pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan industri jasa konstruksi nasional. (*)


Komentar