Pengunjung F8 Nikmati Animasi Film Pendek Legenda Toakala Kera Putih Bantimurung

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Keanekaragaman budaya Indonesia hadir di Makassar International Eight Festival and Forum (F8) yang berlangsung di Anjungan Pantai Losari, 7-11 September 2022.

Potensi budaya ditampilkan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui film pendek legenda ‘Taokala Sang Kera Putih Bantimurung’ yang dapat dinikmati di zona dua.

Hasil karya mahasiswa Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Makassar berkolaborasi dengan Makkomikki ini ditampilkan dalam bentuk animasi.

Film berdurasi lima menit itu menceritakan tentang legenda kerajaan kera di Kampung Abbo, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung. Pengunjung tampak asik menyaksikan.

Kerajaan tersebut dipimpin seorang raja bernama Toakala, sosok kera tinggi besar, berbulu putih, dan pintar berbicara layaknya manusia.

Dalam kisahnya diceritakan Toakala mencintai seorang putri dari Kerajaan Pattiro bernama I Bissu Daeng. Wanita cantik yang ia lihat di Telaga Kassi Kebo saat hendak pergi mencari makan.

Karena rasa cintanya, Toakala mengirim utusannya ke Kerajaan Pattiro dengan maksud meminang I Bissu Daeng.

Namun cintanya berubah menjadi kemurkaan, saat pihak Pattiro menolak dan mengolok-olok Toakala karena dianggap tidak pantas memperistrikan I Bissu Daeng yang jelita lantaran ia hanya seekor kera.

Toakala akhirnya menculik I Bissu Daeng. Namun sang putri diselamatkan seekor ular sanca besar. Toakala kembali murka dan memerintahkan rakyatnya untuk bersiap menyerang Kerajaan Pattiro.

Mendapat kabar akan diserang, nyali Raja Pattiro menciut. Raja Pattiro mengatur siasat jahat dengan mengutus panglimanya untuk bertemu dengan Raja Toakala.

baca juga : Lewat Sandiwara Jenaka di Makassar F8, Kekayaan Budaya Diperkenalkan

Raja Pattiro berpesan agar Toakala datang melamar secara baik-baik dengan syarat, seluruh rakyatnya harus ikut tanpa terkecuali.

Saat rombongan datang, mereka disambut dengan kenduri oleh Raja Pattiro di dalam ruangan besar. Toakala dan rakyatnya sama sekali tak sadar bahwa semua itu hanya jebakan belaka.

Belum usai menyantap makanan kenduri, ruangan itu dibakar pasukan Pattiro dari luar hingga seluruh rakyat Toakala terpanggang oleh api.