Karena memiliki kesaktian, Toakala bersama satu ekor kera betina hitam yang tengah hamil berhasil lolos dari kobaran api itu.
Kera hitam yang lolos menyeka api yang membakar hangus ekor dan pantatnya. Kera itu yang beranak pinak menjadi Macaca Maura.
Sedangkan Raja Toakala marah sekaligus merasa bersalah memilih untuk mengasingkan diri. Setelah peristiwa nahas itu, I Bissu Daeng juga diliputi rasa bersalah.
Ia menganggap kecantikannya menjadi malapetaka besar. I Bissu Daeng mengutuk seluruh keturunannya tidak lagi berwajah cantik seperti dirinya.
baca juga : Semarakkan Makassar F8, Kaltim Persembahkan Tarian Ngoit Ngempolo
Kutukan inilah yang menjadi mitos di Dusun Pattiro, jika ada wanita yang lahir cantik, ia tidak akan berumur panjang.
Nurabdiansyah selaku Kreatif Director Makkomikki saat berdiskusi mengatakan melalui film ini semakin banyak masyarakat yang mengetahui kisah legenda Toakala seekor kera putih besar yang patungnya berdiri kokoh di pintu masuk Bantimurung.
“Dulu kita berpikir bahwa patung itu dibuat hanya kerena di area itu banyak kera, padahal tidak. Ternyata ada legenda di balik patung itu,” ujarnya.
Ia berharap film animasi yang ia gagas bersama dengan mahasiswa DKV UNM mampu menembus pasar industri kreatif, baik di Indonesia maupun dunia dengan menampilkan beranekaragam budaya. (*)

