MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM – Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) menampilkan kekayaan budaya Massenrempulu pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Sulawesi Selatan 2026 yang berlangsung di Baruga Colliq Pujie, Universitas Negeri Makassar, Kamis (23/7/2026).
Kontingen UNIMEN mengikuti dua cabang lomba, yakni seni tari dan monolog. Pada cabang tari, mahasiswa membawakan Tari Pulu Mandoti, sebuah karya yang mengangkat nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Enrekang.
Penampilan tersebut dibimbing oleh Maryam, S.Pd., M.Pd., Gr., mulai dari proses eksplorasi gerak hingga penyempurnaan koreografi.
Sementara pada cabang monolog, UNIMEN menampilkan Balada Sumarah, pertunjukan yang menonjolkan kekuatan interpretasi karakter dan penghayatan naskah.
Baca Juga : UNIMEN Buka Dua Prodi Baru, Perkuat Bidang Informatika dan Teknologi Pangan
Penampilan ini mendapat pendampingan dari budayawan Dr. Muhammad Junaedi Mahyuddin, M.Pd., yang membina peserta dalam aspek vokal, ekspresi, dan pendalaman karakter.
Kepala Biro Kemahasiswaan UNIMEN, Rasman Razak, mengatakan keikutsertaan mahasiswa dalam PEKSIMIDA merupakan bagian dari komitmen kampus untuk mendorong pengembangan potensi mahasiswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
“Partisipasi dalam ajang seni seperti PEKSIMIDA menjadi bukti komitmen UNIMEN dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berprestasi di bidang seni dan budaya,” ujarnya.
Baca Juga : Dosen UNIMEN Raih Doktor, Ciptakan Media BINTANG Tingkatkan Hasil Belajar Siswa
Menurutnya, kompetisi ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, membangun kepercayaan diri, memperluas jejaring antarkampus, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi UNIMEN, keikutsertaan di PEKSIMIDA 2026 bukan sekadar mengejar prestasi, tetapi juga menjadi momentum untuk mengangkat identitas budaya Enrekang melalui Tari Pulu Mandoti dan Balada Sumarah, sekaligus membuktikan bahwa karya seni mahasiswa daerah mampu bersaing di tingkat regional. (*)

