Pada sesi panel yang menhadirkan pembahas Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Rektor ITB Kalla dan Ketua BPD HIPMI Sulsel dipaparkan peran strategis dari masing-masing stakeholder ekosistem kewirausahaan baik dari Pendidikan, bisnis maupun komunitas Kadis Pendidikan Sulsel menegaskan perlunya pemperhatikan SMK sebagai penyelenggara Pendidikan yang sangat dekat dengan iklim kewirausahaan
“Ketika berbicara tentang kewirausahaan di jenjang sekolah, maka hal pertama terlintas adalah SMK. Karena awal mula kenapa SMK dihadirkan di Indonesia adalah dengan harapan dari SMK ini lah bisa hadir lulusan dengan skill dan kemampuan yang arahnya adalah kewirausahaan. Tp kenyataannya sekarang di sulsel khususnya jumlah pengangguran berasal dari lulusan SMK. Harapan saya, jika kita ingin membawa literasi bisnis di jenjang sekolah menengah, kita bisa memulainya di SMK yang ada di Sulawesi Selatan,” Ungkap Prof Jufri
Penyataan Kadis Pendidikan tersebut sejalan dengan ulasan Ketua BPD HIPMI Sulsel. Andi Rahmat Manggabarani, Pengusaha property tersebut membuka peluang kolaborasi dengan SMK-SMK yang membutuhkan pendampingan
“Kami siap memberikan pelatihan misalnya tentang keuangan, bagaimana mengajukan pemodalan usaha. Kita punya mitra kerjasama dengan perbankan, kita juga telah bekerjasama dengan GOJEK. Bukan tidak mungkin, HIPMI juga nanti akan hadir di sekolah-sekolah seperti halnya HIPMI PT di perguruan tinggi”. Tegas Rahmat.
baca juga : Berbagi di Bulan Ramadan, Kalla Beton Beri Santunan Ke 3 Panti Asuhan
“Hipmi adalah organisasi yang terbuka bagi semua kalangan, kolaborasi dan kerjasama dengan semua stakeholder adalah kunci. Sederhananya, jikaa anak-anak muda ingin berorganisasi maka ke HIPMI lah, jika ingin sekolah bisnis, di Makassar sudah ada ITB Kalla. Anak-anak muda tidak perlu kemana-mana lagi”. Ungkap Rahmat
ITB Kalla berharap dari webinar tersebut dapat diperoleh insight yang bermanfaat utamanya dalam mengembangkan kurikulum kewirausahaan yang layak untuk sekolah. Sebagai perguruan tinggi di bawah Yayasan Hadji Kalla yang juga membina sekolah dasar dan menengah, kehadiran kurikulum kewirausahaan yang baik dan sesuai dengan perkembangan zaman menjadi harapan tersendiri.
“Kewirausahaan layak menjadi sebuah mata pelajaran yang terintegrasi dengan berbagai penilaian lain di sekolah, maka dari itu kehadiran kurikulum serta literasi kewirausahaan yang mumpuni dapat menjadi pertimbangan kita ke depan untuk ditindaklanjuti”. Ungkap Syamril,
Syamril juga memperkenalkan kurikulum prodi kewirausahaan pada sesi webinar tersebut dimana kurikulum dirancanga untuk membentuk karakter kewirausahaan dan juga professional yang tangguh di kemudian hari sebagaimana pesan founders. (*)

