Inovasi Pipa Paralon: Mahasiswa KKN-T 115 Unhas Dorong Pertanian Desa Teppo Lebih Efektif

SIDRAP, KORANMAKASSAR.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan edukasi dan praktik pembuatan alat pemupuk sederhana berbahan pipa paralon di Desa Teppo, Kecamatan Tellulimpo’e, Kabupaten Sidenreng Rappang, Minggu (18/01/2026).

Kegiatan ini merupakan program kerja individu yang dirancang sebagai upaya penerapan teknologi tepat guna yang mudah dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat, khususnya dalam mendukung aktivitas pertanian sehari-hari.

Program inovatif tersebut digagas oleh A. Vina Anugrah Andini, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Baca Juga : Mahasiswa KKN-T 115 Unhas Sulap Sampah Dapur Jadi Pupuk Organik Cair untuk Petani Desa Teppo

Melalui kegiatan ini, Vina bertujuan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat desa dalam memanfaatkan alat pemupuk sederhana yang efektif, efisien, ramah lingkungan, dan berbiaya rendah.

Dalam penyampaian materi, Vina menjelaskan pentingnya penggunaan alat pemupuk sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil pertanian.

Ia juga menekankan bahwa teknologi tepat guna berbahan pipa paralon ini dapat membantu petani dalam proses pemupukan tanaman secara lebih merata dan praktis.

“Alat pemupuk sederhana ini diharapkan mampu menjadi solusi alternatif bagi petani dalam meningkatkan efektivitas pemupukan sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan ekonomis,” jelasnya.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari warga. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari proses pembuatan alat pemupuk hingga perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk merakitnya.

Baca Juga : Mahasiswa KKN Unhas Sulap Limbah Kulit Jeruk dan Kemangi Jadi Lilin Aromaterapi Pengusir Nyamuk

Ketua RW Desa Teppo, Sahar, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, inovasi alat pemupuk berbahan pipa paralon ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani jagung.

“Alat ini sederhana, mudah diaplikasikan, dan biayanya relatif murah. Sangat cocok untuk diterapkan oleh petani di desa kami,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan menjadi langkah awal dalam penerapan inovasi teknologi sederhana yang aplikatif dan terjangkau, guna mendukung peningkatan produktivitas pertanian serta pemberdayaan masyarakat Desa Teppo secara berkelanjutan. (*).