ReJO: Pesan Presiden Prabowo Dorong Kreatifitas Rakyat Untuk Indonesia Tangguh 

JAKARTA, KORANMAKASSAR.COM — Ketua umum Relawan Jokowi atau ReJO for Prabowo Gibran, HM Darmizal MS mengapresiasi pidato Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16 Mei yang menyebut masyarakat kecil, terutama di desa tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dollar.

Prabowo menuturkan, masyarakat yang berada di desa tidak banyak yang menggunakan dollar AS.

“Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ungkap Prabowo saat itu.

Menurut Darmizal, ungkapan Presiden Prabowo Subianto bahwa orang desa tidak membutuhkan dolar untuk hidup sehari-hari sesungguhnya tidak dapat dipahami secara sempit sebagai penolakan terhadap ekonomi global.

“Yang dimaksud adalah sebuah pesan strategis bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki kemampuan bertahan, memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, dan tidak kehilangan martabat ketika dunia mengalami krisis,” ungkap Darmizal Selasa 19 Mei 2026.

Baca Juga : Presiden Prabowo Subianto Hadiri Hari Buruh di Silang Monas

Dijelaskan pria asli Minangkabau ini, pandangan itu sejalan dengan semangat yang pernah disampaikan Megawati Soekarnoputri bahwa Indonesia adalah negeri yang dianugerahi kelimpahan alam, budaya, dan sumber pangan yang memungkinkan rakyatnya tetap bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan global.

“Hakikat dari pesan tersebut bukan anti-perdagangan internasional, bukan anti-dolar, dan bukan anti-modernitas. Justru sebaliknya membangun pondasi ekonomi nasional yang kuat dimulai dari kemampuan masyarakat di tingkat desa untuk mandiri, kreatif, produktif dan bijak memanfaatkan potensi lokalnya,” terangnya.

Lebih lanjut Darmizal, Indonesia memiliki semua syarat untuk itu. Bayangkan satu siklus kehidupan desa Indonesia yang sehat dan berdaya.

“Pagi hari masyarakat desa memulai aktivitas bukan dengan kecemasan terhadap kurs dolar atau harga komoditas dunia. Tetapi dengan keyakinan bahwa kebutuhan dasar keluarga mereka tersedia di sekitar lingkungan sendiri. Karbohidrat tidak semata bergantung pada beras impor atau gandum impor, melainkan berasal dari singkong, talas, ubi jalar, suweg, sagu, jagung, dan berbagai umbi lokal yang secara gizi bahkan memiliki kandungan serat, mineral, dan indeks glikemik yang lebih baik untuk kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga : Isu Akuisisi NasDem oleh Prabowo Menguat, Pengamat: Lebih ke Konsolidasi Kekuatan Politik

Diungkapkan Darmizal, protein diperoleh dari kolam ikan desa, ternak ayam kampung, telur, kacang-kacangan, dan hasil pertanian lokal. Bahkan, pekarangan rumah menjadi sumber pangan keluarga.

“Cabai, tomat, daun kelor, pisang, pepaya, hingga rempah-rempah tumbuh di halaman sendiri,” jelasnya.

Alumni UGM Yogyakarta ini menambahkan, minyak goreng tidak harus selalu tergantung dari rantai industri besar. Desa-desa pesisir dan tropis Indonesia memiliki pohon kelapa yang dapat menghasilkan minyak kelapa tradisional yang sehat dan bernilai ekonomi tinggi.

“Gula tidak harus selalu bergantung pada gula rafinasi impor karena Indonesia memiliki aren dan kelapa yang mampu menghasilkan gula alami berkualitas tinggi sekaligus membuka lapangan kerja rakyat,” tegasnya.

Masih menurut Darmizal, air tersedia dari sumber alam yang dijaga bersama. Energi dapat dikembangkan dari mikrohidro, biogas, tenaga surya, atau limbah pertanian. Sampah organik kembali menjadi pupuk. Desa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen.

Komentar