PALOPO, KORANMAKASSAR.COM — Di sebuah sudut Jalan Andi Djemma, Kota Palopo, setiap subuh Nenek Sutinah memulai harinya dengan menanak nasi kuning. Dari gerobak sederhana itu, ia menggantungkan harapan hidup, menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk satu mimpi besar di usia senja: berangkat umroh bersama keluarga kecilnya.
Dari hasil jualan yang tak seberapa, Sutinah bersama enam kerabatnya berhasil mengumpulkan tabungan hingga Rp112 juta. Uang itu menjadi simbol perjuangan panjang, keringat, dan doa yang tak pernah putus untuk bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Namun, mimpi itu kini tertahan. Harapan yang sudah berada di depan mata berubah menjadi kekecewaan setelah mereka mengikuti program umroh yang dijanjikan sebagai subsidi. Dana yang telah terkumpul tidak kembali sesuai harapan.
Baca Juga ; Dari Makkah ke Makassar: Kiprah Wanda Memimpin Puskesmas Panambungan
Di tengah situasi itu, ada satu hal yang paling menyayat hati Sutinah. Setiap hari ia harus berhadapan dengan pertanyaan polos cucunya yang masih berusia 7 tahun, Daffa Gassal, seorang bocah tunanetra yang tak pernah berhenti bertanya dengan suara lembut.
“Kapan kita pergi ke Mekkah, Nek?”
Pertanyaan itu datang berulang, sederhana, namun cukup membuat hati seorang nenek terdiam panjang. Sutinah tak selalu punya jawaban. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan air mata yang tak ingin terlihat oleh cucunya.
“Uang itu hasil kerja keras saya bertahun-tahun jualan nasi kuning. Saya hanya ingin uang itu kembali, supaya saya bisa tetap punya harapan di masa tua,” ucapnya lirih.
Baca Juga : Hari Lahir Pancasila 2026, Kiprah ASN Perantau Bulukumba Jadi Potret Birokrasi Inovatif dan Berintegritas
Sutinah menjadi satu dari puluhan korban yang mengalami hal serupa. Hingga kini, proses hukum masih berjalan, sementara harapan para korban untuk mendapatkan kembali hak mereka belum sepenuhnya terjawab.
Namun di balik kisah ini, ada keteguhan seorang nenek yang tetap berdiri. Meski mimpinya tertunda, ia masih memilih untuk bertahan, demi satu hal yang paling berharga: senyum cucu yang terus menanyakan harapan yang sama, tentang perjalanan ke Tanah Suci yang belum juga tiba.
Dan mungkin, di balik segala kecewa itu, Sutinah hanya sedang belajar satu hal sederhana—bahwa harapan tidak selalu hilang, hanya kadang tertunda lebih lama dari yang diinginkan. (*)


Komentar