MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Pada Januari 2021, Pemerintah Indonesia Melalui Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan ambisinya menjadikan Indonesia menjadi produsen baterai terbesar di indonesia. Hal tersebut diungkapkan Luhut pada saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Transportasi di Kawasan Merak-Bakauheni-Tol Lampung, Selasa (26/1/2021).
Ambisi besar pemerintah Indonesia menanggapi perkembangan dunia yang mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan dengan menggunakan kendaraan bertenaga listrik. Namun seiring dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen baterai terbesar di dunia, ekspansi pertambangan untuk bahan baku baterai juga akan semakin membesar.
Dalam Konferensi pers yang dilakukan WALHI Region Sulawesi, Jum’at (26/3/2021), Saharuddin, Direktur WALHI Sulawesi Tenggara mengungkapkan, ketika secara signifikan masyarakat dunia menginginkan pengurangan penggunaan energi fosil, masyarakat adat, perempuan, dan warga sulawesi tenggara secara umum, akan terdampak langsung dari ekspansi pertambangan nikel yang akan semakin membesar.
“Di Sulawesi tenggara masyarakat tidak sempat memikirkan soal energi masa depan, karena untuk mendapatkan kehidupan yang layak saja itu sangat sulit, akibat dari ekspansi pertambangan nikel yang ada di sulawesi tenggara,” lanjutnya.
Direktur WALHI Sulawesi Tenggara ini melanjutkan bahwa; “Tidak hanya kerusakan lingkungan, dan masyarakat lokal, keanekaragaman hayati serta satwa endemik yang ada di pulau Sulawesi akan menjadi penerima dampak dan semakin terancam kehidupannya.”
Untuk diketahui, wilayah dengan kandungan nikel terbesar yang ada di Indonesia berada di pulau Sulawesi dan Maluku Utara, dengan ambisi menjadikan Indonesia sebagai produsen baterai terbesar di dunia, ekspansi pertambangan nikel secara besar-besaran akan terjadi di wilayah ini.

