JAKARTA, KORANMAKASSAR.COM — Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mendorong umat Islam di Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi sebagai bagian dari upaya mewujudkan bangsa yang berdaulat dan kuat.
Hal tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat menjadi narasumber dalam acara Kongres Umat Islam ke-VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Minggu (26/07/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla menyampaikan pandangannya terkait tema kongres yaitu “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”.
Menurutnya, persatuan umat Islam saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, meski masih terdapat perbedaan pandangan dalam sejumlah hal.
“Kita jauh lebih baik dibandingkan dulu. Kalau dulu tarawih saja kita perdebatkan dan kita berkelahi. Baca bismillah, tidak bismillah, kita bisa saling tonjok. Kalau sekarang tinggal berbeda satu Ramadan, yang lainnya sudah baik,” ujar Jusuf Kalla.
Baca Juga : Jusuf Kalla Minta Negara Islam Utamakan Dialog untuk Redam Konflik Timur Tengah
Ia menilai perbedaan merupakan hal yang wajar dan harus menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan.
“Perbedaan karena rahmat. Jadi kita harus lebih baik, lebih memajukan persatuan kita,” katanya.
Namun, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan hanya soal persatuan, melainkan juga kemandirian ekonomi. Menurutnya, sebuah bangsa belum sepenuhnya berdaulat apabila masih lemah dalam bidang ekonomi.
“Secara politik kita berdaulat, tapi di mana tidak berdaulat bangsa ini? Di ekonomi. Ekonomi masih tergantung,” ujar Jusuf Kalla.
Ia menyoroti banyaknya diskusi mengenai ekonomi syariah dan ekonomi Islam, tetapi belum diikuti dengan langkah nyata dalam membangun kekuatan ekonomi umat.
Baca Juga : Jusuf Kalla: Dialog Jadi Kunci Mencegah dan Menyelesaikan Konflik
“Kita boleh berkompetisi macam-macam, silakan. Tapi kita tidak berbuat banyak. Mari kita hentikan budaya ini,” tegasnya.
Jusuf Kalla mengatakan, sebagai kelompok mayoritas dengan jumlah penduduk Muslim yang besar, umat Islam harus mampu meningkatkan kualitas ekonomi, bukan hanya mengandalkan jumlah.
“Kita selalu bicara jumlah, tapi tidak kualitas. Kita kuat, mayoritas iya. Tapi lemah di mana? Kita bicara kelemahannya,” ucapnya.
Ia mencontohkan bahwa salah satu tantangan besar umat Islam adalah masih rendahnya kemampuan ekonomi, sehingga berdampak terhadap kemampuan dalam menjalankan kegiatan sosial seperti zakat dan wakaf.


Komentar