“Ke depan kita harus beralih ke sanitary landfill, di mana hanya residu yang masuk ke TPA. Pemilahan dari sumber wajib dilakukan untuk menekan volume sampah,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Makassar juga merencanakan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berskala besar, termasuk Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) di kawasan Tamangapa dengan kapasitas sekitar 1.300 ton per hari.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, dan pirolisis turut didorong guna meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah.
FGD juga mengungkap tantangan utama berupa rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
Meski demikian, sejumlah wilayah telah menunjukkan capaian positif, salah satunya Kecamatan Tallo yang mampu mereduksi sekitar 50 ton dari total 89 ton sampah per hari melalui integrasi pengelolaan sampah dan urban farming.
Namun di sebagian wilayah lain, masih berkembang persepsi bahwa pembayaran retribusi sampah sudah cukup tanpa diiringi kewajiban memilah sampah dari sumbernya.
Berdasarkan data, timbulan sampah di Kota Makassar mencapai sekitar 1.034 ton per hari, dengan lebih dari 900 ton di antaranya belum terkelola secara optimal.
Baca Juga : Makassar Tinggalkan Open Dumping, Camat Kompak Teken Komitmen Wujudkan Sistem Sampah Modern
Sebagai langkah penguatan, Pemkot Makassar tengah menyiapkan tenaga edukator persampahan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
Helmy menegaskan, penanganan sampah membutuhkan langkah luar biasa melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan peran wilayah, serta perubahan pola pikir masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, FGD berikutnya akan difokuskan pada pemetaan persoalan di tiap kecamatan.
Setiap camat diminta menyusun mapping masalah dan solusi sesuai karakteristik wilayah masing-masing, sebagai bagian dari strategi penanganan yang lebih terarah dan efektif. (*).


Komentar