Teka-Teki Foto Presiden Prabowo Terpajang di Israel

Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian

Kemunculan sosok Prabowo dalam baliho di Tel Aviv juga memperlihatkan bagaimana komunitas internasional memandang strategisnya kehadiran Indonesia di kawasan yang selama puluhan tahun dilanda konflik berkepanjangan.

Beberapa alasan barangkali penting untuk dikemukakan di sini mengenai poin tersebut.

Pertama, dari sisi legitimasi moral dan historis. Semua orang tahu bahwa Indonesia memiliki jejak historis yang sangat kuat soal relasi dengan Palestina.

Hal itu dimulai sejak era Presiden Sukarno yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Dukungan ini tidak hanya retorika belaka. Sukarno menunjukkan komitmen dukungannya dalam berbagai forum internasional, mulai dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Gerakan Non-Blok, hingga Sidang Umum PBB.

Konsistensi ini menjadikan Indonesia memiliki andil besar dalam membangun kepercayaan kepada dunia Arab dan negara-negara Muslim dunia.

Belakangan, kehadiran Prabowo dalam baliho di Tel Aviv justru semakin meneguhkan posisi dan legitimasi tersebut: bahwa Indonesia bisa hadir di tengah-tengah Israel, tanpa kehilangan kredibilitasnya di mata Palestina.

Kedua, kekuatan politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif juga menjadi alasan mengapa Indonesia sangat leluasa dalam memberikan pengaruh dan dukungan terhadap diplomasi perdamaian dunia.

Politik luar negeri Indonesia tidak berpihak secara mutlak pada blok-blok tertentu, melainkan selalu mengedepankan pencarian solusi damai dan keseimbangan.

baca juga : Kemenko Polkam Perkuat Keamanan Siber untuk Dukung Program Prioritas Presiden Prabowo

Prinsip bebas-aktif inilah yang membuat Indonesia mampu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara yang seringkali berseberangan secara politik.

Dalam poin ini, Prabowo sebagai sosok presiden Indonesia yang disegani di kancah internasional, bahkan sekelas Donald Trump, diposisikan sebagai pemimpin yang membawa semangat moderasi, keseimbangan, dan keterbukaan terhadap berbagai pendekatan diplomasi.

Ketiga, kapasitas Indonesia sebagai negara demokrasi besar dunia serta negara dengan mayoritas Muslim di dunia merupakan modal penting dalam misi perdamaian internasional.

Modalitas itu sekali lagi, menjadikan Indonesia memiliki daya tawar istimewa sebagai mediator, mampu diterima oleh Palestina karena ikatan keagamaan dan solidaritas historis, serta dapat diterima oleh Israel karena rekam jejak demokrasi, keterbukaan, dan orientasi pada solusi saling menguntungkan.

Akhirnya, apa yang bisa dibaca dari munculnya baliho Prabowo di Tel Aviv, tak lain dan tak bukan, merupakan gambaran simbolik bahwa Indonesia siap mengambil peran lebih proaktif dalam misi pedamaian Israel-Palestina. (*)

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Median Online (IMO) Indonesia