DEPOK, KORANMAKASSAR.COM — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memaparkan strategi Pemerintah Kota Makassar dalam membenahi persoalan persampahan pada forum City-to-City Learning and Innovation Lab: Waste Management Practices yang digelar United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) di The Margo Hotel, Depok, Selasa (28/7/2026).
Dalam forum yang mempertemukan pemerintah daerah dari berbagai wilayah Indonesia itu, Munafri mengungkap kondisi TPA Makassar yang sebelumnya masih menerapkan sistem open dumping hingga mendapat sanksi administratif.
“TPA kami seluas 21 hektare dengan timbunan sampah mencapai enam hingga tujuh meter dan masih menggunakan sistem open dumping,” ujar Munafri.
Sebagai langkah awal, Pemkot Makassar melakukan transformasi TPA menuju sistem sanitary landfill yang kini disebut telah mencapai lebih dari 85 persen. Penanganan juga mencakup penutupan timbunan dengan cover soil, pengelolaan gas metana, serta pengolahan air lindi.
Baca Juga : Wali Kota Makassar Wajibkan Pilah Sampah dari Rumah, Cukup Dua Ember
Namun, Munafri menegaskan penyelesaian persoalan sampah tidak cukup dilakukan di TPA. Pemkot juga memperkuat pengurangan sampah dari sumber melalui gerakan pemilahan di rumah tangga.
“Kampanye kami sederhana, cukup dua ember di setiap rumah. Satu untuk sampah organik dan satu lagi untuk sampah nonorganik,” katanya.
Sampah organik diarahkan untuk diolah melalui program Teba Modern dan biopori, sementara sampah bernilai ekonomi diperkuat melalui Bank Sampah Unit dan Bank Sampah Induk.
Pemkot Makassar juga memperluas pembangunan TPS3R serta melibatkan sekitar 6.000 Ketua RT untuk mengawal pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Upaya perubahan perilaku turut menyasar sektor pendidikan. Sekolah dari jenjang PAUD hingga SMP didorong membiasakan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dini.
Baca Juga : Makassar Jadi Pilot Project Digitalisasi Bansos, Wali Kota Munafri Minta Warga Jujur
Selain itu, Pemkot membentuk Dewan Lingkungan yang melibatkan akademisi, aktivis, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperkuat edukasi serta inovasi pengelolaan sampah.
Munafri optimistis pembenahan TPA, pengurangan sampah dari sumber, pendidikan lingkungan, hingga penguatan ekonomi sirkular dapat membawa Makassar keluar dari persoalan persampahan.
“Kami meyakini, insyaallah dengan proses yang kami lakukan, Kota Makassar akan menjadi kota yang paling pertama berhasil keluar dari persoalan persampahan di Indonesia,” pungkasnya. (*)

