Misalnya jihad, jihad direduksi dengan makna yang hakikatnya kondisional, sangat situasional, lalu digunakan untuk kondisi damai secara umum sesuatu yang bertolak belakang tentu.
Ketiga, kecenderungan bahwa ada pemahaman keagamaan yang justru bisa mengoyak dan merusak ikatan kebangsaan. Misalnya politisasi agama, penyeragaman terhadap hal yang beragam dan lain sebagainya.
baca juga : Tim Ad Hoc AHWA Bentukan Kementerian Agama Ke Sulsel, Ini yang Dilakukan
Maka, moderasi agama diperlukan agar cara pandang, sikap keagamaan kita bersifat moderat, tidak melebih-lebihkan, tidak melampaui batas, tidak ekstrem.
Sebelumnya, Kasubag Ortala dan KUB Kanwil Kemenag Prov. Sulsel H. Hasbullah Muntu selaku Penyelenggara melaporkan bahwa Acara Yang bertajuk “Penguatan Moderasi Beragama” ini, digelar Dua Hari (tanggal 8 – 9 Srpt 2021) oleh Kanwil Kementerian Agama Prov. Sulsel melalui Subbag Ortala dan KUB pada Bagian Tata Usaha digelar sesuai Protokol Kesehatan, yang melibatkan 120 Peserta yang dibagi dalam 2 Hari, dan setiap harinya diikuti 60 Peserta
Di Kegiatan ini diisi oleh Narasumber diantaranya Kepala Kesbangpol Pemprov. Sulsel, Ketua MATAN Sulsel, Akademisi dan Pengurus FKUB Sulsel dengan tujuan selain lebih memahami Moderasi Beragama, Seluruh Peserta Juga diharapkan akan jadi pionir di garda terdepan menjadi Juru Kampanye Moderasi beragama di lingkungannya masing masing, Jelas Hasbullah.
Mawardi

