SRAGEN, KORANMAKASSAR.COM – Universitas Hasanuddin (Unhas) dipercaya memimpin Konsorsium Program Studi Arkeologi Indonesia yang resmi dibentuk dalam pertemuan tujuh Program Studi Arkeologi perguruan tinggi negeri (PTN) di Museum Manusia Purba Sangiran, Klaster Krikilan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026).
Dalam forum tersebut, dosen Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., terpilih sebagai Ketua Konsorsium. Sementara posisi Sekretaris dipercayakan kepada Irsyad Leihitu, H.Hum. dari Universitas Jambi.
Konsorsium ini beranggotakan tujuh Program Studi Arkeologi PTN, yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, Universitas Jambi, dan Universitas Andalas.
Baca Juga : UKM KPI Unhas dan Pemkab Bone Hidupkan Kembali P2L, Salurkan 1.300 Bibit untuk KWT Anggrek
Pembentukan konsorsium menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi nasional dalam pengembangan pendidikan tinggi arkeologi, baik dalam bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun publikasi ilmiah.
Selama masa mandat dua tahun, konsorsium akan fokus mempersiapkan pembentukan Asosiasi Program Studi Arkeologi Indonesia berbadan hukum serta menyusun standar kompetensi lulusan Program Sarjana Arkeologi sebagai acuan nasional.
Ketua Konsorsium, Dr. Yadi Mulyadi, mengatakan kepercayaan yang diberikan kepada Unhas merupakan amanah besar untuk memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam memajukan pendidikan arkeologi di Indonesia.
“Konsorsium ini diharapkan menjadi wadah bersama untuk memperkuat tata kelola pendidikan tinggi arkeologi, menyusun standar kompetensi lulusan, serta mempersiapkan terbentuknya asosiasi program studi yang profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga : UKM KPI Unhas Gandeng Maxxi Tani, Percepat Transformasi Pertanian Digital bagi Petani Bone
Pembentukan konsorsium tersebut juga mendapat dukungan dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), yang menjadi sponsor utama Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) di kawasan Situs Manusia Purba Sangiran.
Program PATI melibatkan 42 mahasiswa dan dosen pendamping dari tujuh Program Studi Arkeologi PTN sebagai bentuk kolaborasi akademik dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi generasi muda arkeologi Indonesia.
Melalui konsorsium ini, perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat posisi Arkeologi sebagai bagian penting dari rumpun ilmu Humaniora sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan riset yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pelestarian warisan budaya Indonesia. (*)


Komentar