Agama Sebagai Produk Budaya Manusia, Review Pemikiran Denny JA Soal Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Kita Bersama

Semakin tidak pasti manusia hidup, semakin besar kebutuhan mereka akan agama. Semakin tidak mengerti mereka akan kehidupan, semakin tak bisa lepas mereka dari agama.

Inglehart meyakini bahwa politik dan pemerintahan memainkan peran penting bagi perilaku agama manusia. Pemerintah yang bisa menghadirkan kenyamanan, kesejahteraan, dan kebebasan, akan membuat manusia lebih independen dan berlepas dari ketergantungannya pada agama.

Sebaliknya, pemerintahan yang otoriter, represif, dan tak peduli, cenderung membuat manusia lari kepada agama.

Bukti-bukti yang dibawa Inglehart cukup meyakinkan. Dalam Peta Budaya Dunia yang dia buat bersama Welzel, Inglehart memperlihatkan adanya korelasi yang kuat antara kenyamanan hidup dan tingkat ketergantungan manusia pada agama.

Negara-negara yang hidupnya nyaman-sentosa seperti Swedia, Norwegia dan negara-negara Skandinavia lainnya, cenderung “sekular” di mana rakyatnya semakin jauh meninggalkan agama.

Agama

Sementara negara-negara yang miskin dan represif, seperti kebanyakan negara muslim dan negara-negara di Afrika, cenderung “religius”.

Temuan Inglehart paralel dengan hasil penelitian beberapa lembaga lain tentang tingkat religiositas suatu negara. Dalam survei lembaga-lembaga itu, negara-negara muslim dan Afrika selalu menempati urutan teratas sebagai negara paling religius di dunia.

Penelitian Pew Research Center (2015), misalnya, menempatkan Etiopia sebagai negara paling religius. Di bawahnya, terdapat Senegal, Indonesia, Uganda, dan Pakistan.

Dalam penelitian ilmiah, sikap “sekuler” atau “religius” sebuah masyarakat dinilai berdasarkan indikator-indikator yang terukur, seperti pandangan tentang penting-tidaknya agama, keyakinan akan adanya tuhan, dan seberapa sering mereka melakukan doa atau ibadah dalam seminggu terakhir.

Indikator-indikator ini kemudian dikonversi menjadi angka yang merepresentasikan tingkat religiositas dan sekularitas mereka.