Agama Sebagai Produk Budaya Manusia, Review Pemikiran Denny JA Soal Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Kita Bersama

Yang menarik dari penelitian Inglehart adalah kenyataan ini: pemerintahan yang mampu memenuhi kesejahteraan dan kebebasan warganya, cenderung menghasilkan masyarakat yang sekuler.

Sementara pemerintahan yang tak peduli pada urusan warganya dan membuat mereka hidup tak nyaman, cenderung melahirkan masyarakat yang religius.

Dengan kata lain, kesejahteraan dekat dengan “kekafiran” (irreligion), dan bukan sebaliknya, bahwa kemiskinan akan membuat orang tak beragama (kafir).

Bagi sebagian orang, kenyataan di atas tentu menyesakkan. Dalam skala makro, agama ternyata tidak bisa berjalan beriringan dengan kemajuan dan kesejahteraan manusia.

Agama hanya relevan bagi orang-orang miskin atau mereka yang hidup dalam ketidakpastian. Orang-orang yang hidupnya nyaman dan mengerti bagaimana dunia bekerja, cenderung tak membutuhkan agama. Atau paling tidak, ketergantungannya pada agama berkurang.

Penjelasan Ilmiah.

Temuan Inglehart penting untuk menjawab salah satu dari dua fungsi utama agama yang saya sebutkan di atas, yakni bahwa agama menjadi tumpuan manusia ketika mereka tak memiliki tempat untuk bersandar.

Negara yang mampu memainkan peran tuhan–memenuhi harapan dan permintaan–cenderung membuat warga mengalihkan ketergantungannya pada agama. Sebaliknya, ketika negara absen, ketergantungan pada agama akan meningkat.

Tapi, penelitian Inglehart tidak sepenuhnya menjawab fungsi kedua agama, yakni sebagai penyingkap misteri. Misteri kehidupan tidak bisa dijawab oleh sistem politik yang baik, tapi oleh pengetahuan dan kemajuan sains.

Sejak awal era modern, fungsi agama sebagai penjelas misteri semakin berkurang. Perannya digantikan ilmu pengetahuan. Berbagai misteri yang pada masa silam menjadi domain agama sudah dijawab ilmu pengetahuan. Setiap kali ilmu pengetahuan menjawab misteri itu, fungsi agama mengecil.

Para filsuf punya istilah yang bagus untuk menggambarkan keterdesakan agama, yakni “god of the gaps” atau tuhan ruang kosong. Ketika manusia tak banyak tahu tentang dirinya dan alam raya, dia menghadirkan tuhan sebagai penjelas.

Tapi, ketika ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya, tuhan tiba-tiba lindap, menghilang dari ruang misterius itu. Setiap kali ilmu pengetahuan menjawab suatu misteri, saat itu pula tuhan hengkang, mencari ruang-ruang kosong baru.

Dulu, manusia meyakini bahwa penyakit berasal dari tuhan. Lalu, datang ilmu kedokteran memberi penjelasan secara detil tentang sebab-sebab penyakit. Sekarang ini, tak ada orang waras yang percaya bahwa kusta, cacar, atau malaria, sebagai buatan tuhan. Mereka yang masih percaya bahwa semua penyakit itu ciptaan tuhan, pastilah ada masalah kejiwaan dalam dirinya.