Agama Sebagai Produk Budaya Manusia, Review Pemikiran Denny JA Soal Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Kita Bersama

Selama ratusan tahun manusia didoktrin untuk percaya pada nama-nama itu sebagai tokoh nyata yang ada dalam sejarah. Tapi, para arkeolog dan ahli sejarah menegaskan bahwa semua nama itu hanyalah tokoh fiktif yang tak pernah ada.

Taurat, yang menjadi sumber semua kisah itu, ternyata hanyalah kumpulan dongeng yang ditulis para rabi Israel ketika mereka diasingkan di Babilonia pada abad ke-6 SM.

Informasi tentang sejarah penulisan Taurat sangatlah penting. Sayangnya, jarang diketahui orang, khususnya umat beragama. “Pengasingan Babilonia” adalah satu fase krusial dalam sejarah Yahudi. Peristiwa itu menginspirasi para rabi untuk membuat cerita tentang eksodus besar bangsa Yahudi.

Dalam Taurat, kisah eksodus itu dikarang sedemikian rupa sebagai peristiwa yang terjadi di Mesir. Sayangnya, hingga kini, tak ada satupun arkeolog dan ahli sejarah yang menemukan jejaknya.

Era “Pengasingan Babilonia” sangat penting bagi sejarah Yahudi dan juga sejarah agama-agama Ibrahimi. Di kota inilah kaum terpelajar Israel berkenalan dengan ratusan literatur Babilonia di mana berbagai kisah biblikal ditemukan.

Perlu dicatat, Babel pada saat itu adalah kota metropolitan yang mewarisi lebih dari 1000 tahun peradaban Mesopotamia. Jangan lupa, berbagai temuan yang berpengaruh bagi kehidupan manusia, seperti roda, sistem irigasi, kalender, dan peralatan perang, ditemukan di peradaban ini.

Mempelajari sejarah Taurat sangat penting, khususnya bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebagian besar cerita dalam al-Quran adalah saduran dari apa yang terkandung dalam Taurat. Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Firaun yang disebutkan al-Quran adalah tokoh-tokoh yang sama yang disebutkan Taurat.

Jika Islam lahir di tempat yang jauh dari lokasi di mana Taurat ditulis (di Papua misalnya), kita mungkin harus bertanya mengapa ada kesamaan cerita. Tapi, Islam lahir persis di tengah kawasan antara Mesopotamia dan Mesir. Dan para pendirinya, berinteraksi cukup intensif dengan orang-orang dari dua peradaban itu. Tak perlu uraian rumit untuk menjelaskan mengapa ada kesamaan cerita pada keduanya.

Mengkaji kembali sejarah agama secara ilmiah sangat penting, bukan hanya untuk menjadikannya “warisan kultural manusia” seperti yang dituliskan saudara Ahmad Gaus dalam bukunya tentang pemikiran Denny JA, tapi juga sebagai upaya untuk mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan.

Selama ratusan tahun manusia terkungkung oleh mitos dan dongeng yang diajarkan kitab suci. Seringkali, mitos-mitos itu dijadikan alasan untuk berperang, membunuh, dan membenci.