Peran Intelektual.
Sains dan ilmu pengetahuan mungkin tidak bisa secara instan menghapus memori tentang agama dan tuhan dari benak manusia. Tapi, bukti-bukti empiris menunjukkan, semakin banyak orang bergelut di dunia ilmiah, semakin besar potensinya untuk meninggalkan keyakinan agama.
Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan bahwa ateisme di kalangan ilmuwan jauh lebih besar dibanding masyarakat awam.
Survei yang dilakukan pada 2009 itu menunjukkan, hanya 33% ilmuwan di Amerika Serikat yang percaya pada tuhan. Sisanya tak percaya. Sementara di kalangan awam, 83% orang masih percaya pada keberadaan tuhan.
Artinya, semakin banyak orang terekspos penjelasan ilmiah, semakin besar kemungkinannya menjadi ateis. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki alternatif penjelasan terhadap misteri kehidupan, akan tetap mengandalkan agama.
Lalu, apakah agama akan segera punah? Apakah dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, agama bakal ditinggalkan orang? Menurut saya, jawaban atas pertanyaan ini kurang-lebih sama dengan fenomena yang dijelaskan Inglehart.

Agama tak segera ditinggalkan manusia karena jumlah negara yang tak nyaman di dunia jauh lebih banyak ketimbang yang nyaman. Begitu juga, jumlah orang yang tidak terekspos kajian-kajian ilmiah jauh lebih banyak dari mereka yang intens mengikuti perkembangannya.
Yang perlu dikhawatirkan bukanlah banyaknya jumlah manusia yang masih beragama, tapi bagaimana mereka memahami dan menjalaninya. Peran intelektual dan kaum terdidik, karenanya, menjadi penting, untuk terus-menerus mengampanyekan agama sebagai warisan kultural dan produk budaya manusia.
Harapannya, setidaknya mereka bisa bersikap sedikit rileks pada keyakinan yang sejatinya hanya buatan manusia.**
Penulis : Dr. Luthfi Assyaukanie menyelesaikan PhD-nya dari Universitas Melbourne, Australia, dalam bidang sejarah politik Islam. Disertasinya sudah diterbitkan, dengan judul Islam and the Secular State in Indonesia (Singapoe: Iseas, 2009).
Luthfi menerbitkan tulisannya di beberapa jurnal internasional. Di antaranya, Journal of Religion and Society, Journal for the Academic Study of Religion, dan The Copenhagen Journal of Asian Studies. Kini, dia mengajar di program studi Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, Jakarta.
-000-
Pemikiran Denny JA soal agama yang dibahas oleh Dr. Luthfi Assyaukanie ada dalam karya Ahmad Gaus AF: Era Ketika Agama Menjadi Kekayaan Kultural, Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google (CBI, 2023)
Buku itu dapat dibaca dengan klik ini:
https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/2174605606060863/?mibextid=S66gvF

